h hanya kepada Allah SWT dan tiada yang berhak disembah selain-Nya. Seperti isi kandungan dari surat Al-Ikhlas yang gamblang menerangkan keesaan Allah.
Bumi yang telah menua pun menjadi saksi perkembangan Islam dari zaman ke zaman. Begitu berat tugas Rasulullah di tengah-tengah kejahiliyahan penduduk Mekkah kala itu. Namun, Islam adalah agama yang dirahmati Allah. Rasulullah pun melaksanakan perintah-Nya untuk memberikan pencerahan. Masa ke masa, penduduk Mekkah pun dapat menerima ajaran Islam bahkan hingga ke penjuru dunia, termasuk Indonesia. Islam memang mengajarkan kebaikan untuk urusan duniawi dan akhirat.
Tapi ironi, akhir-akhir ini eksistensi Islam tercoreng dengan maraknya terorisme yang terjadi di beberapa negara. Entah apa sebab dari semua ini, namun selalu saja pelakunya adalah mereka yang mengaku ber-Islam namun cara yang digunakan sungguh memprihatinkan. Bahkan ironinya hingga timbul fobia Islam pada sebagian penduduk di bumi ini. Hmm kenapa ya gaes?
Mari kita cermati, mulai dari terorisme yang notabene mengaku ber-Islam. Banyak dari mereka memilih jalan tersebut karena dianggap sebagai jihad fisabilillah atau jihad di jalan Allah. Menggunakan kekerasan terhadap orang-orang yang dianggap kafir, bahkan tak segan-segan melakukan aksi bunuh diri. Walaupun ada alasan lain, seperti faktor ekonomi dan sosial yang memaksa mereka bergabung dalam kelompok-kelompok tersebut.
Dalam buku karangan Ahmad Norma Permata yang berjudul Agama dan Teroris, “Teroris adalah penggunaan kekerasan secara sistematis oleh para pelaku yang memiliki sebuah keterkaitan identitas subkultural, baik subjektif maupun objektif”. Jadi mereka mencoba untuk memecahkan perselisihan antara diri mereka sendiri dan kultur yang lebih besar atau antar kultur mereka dan berabagai subkultur yang lain. Mereka berusaha untuk mengintimidasi dan menakut-nakuti dengan cara yang keras dan tak manusiawi. Hal inilah yang membuat dunia membenci kita sebagai umat Islam. Cara yang tak dapat diterima oleh dunia, hingga timbullah fobia terhadap Islam.
Dalam buku ”Etika dan Estetika Dakwah” karangan Dr. Hajir Tajiri, M.Ag. memberikan pemikiran di antaranya tentang etika dan estetika dakwah, bagaimana seharusnya dai sebagai ujung tombak keberhasilan dakwah melaksanakan tugas dakwahnya sehingga masyarakat dengan tulus ikhlas mau dan mampu menerima dakwah serta bagaimana dai menentukan pilihan metode dalam berdakwah sebab dalam etika bukan hanya cara, tetapi pertimbangan apa yang mendasari penggunaan cara itu sehingga pemilihan suatu metode dirasakan sebagai suatu pilihan yang penting untuk dikonsepkan. Sebagai seorang muslim, marilah kita merenungi hal-hal seperti ini. Adakah yang salah dari kita? Padahal kita tahu Islam adalah agama damai dan benar. Namun, bagaimana caranya agar dunia percaya akan hal itu? Sementara terorisme semakin merajalela di mana-mana. Terlepas dari bahasan mengenai terorisme, marilah kita membahas tentang kiat-kiat apa saja yang harusnya muslim lakukan untuk membuat Islam berjaya di muka bumi ini. Sebagai seorang muslim, kita harus paham betul dengan ilmu agama yang kita miliki. Jangan hanya mengaku beragama untuk kelengkapan identitas namun tak banyak tahu ajaran-ajarannya. Bagaimana Islam mau dibuat jaya sedangkan agamanya sendiri saja dia tak paham. Jadi yang pertama adalah kita sebagai orang muslim harus semangat belajar ilmu agama. Namun ingat, belajar agama jangan pakai cara ngawur-ngawuran. Belajarlah pada orang yang tapat,carilah yang memiliki sanad keilmuan yang jelas dan terpercaya alias yang sesuai dengan ahlussunnah waljama’ah. Semua itu dilakukan agar tak terjerumus dengan kata “hijrah” namun imbasnya malah membuat isi hati semakin parah, misalnya saja mudah megkafirkan orang lain, mudah menakar keimanan seseorang hanya dalam satu sisi,dan lain sebagainya. Ya, penulis rasa pembaca sudah familiar dengan fenomena seperti itu.
Perbaikilah hubungan dengan Allah SWT, yang telah menciptakan kita sebagai khalifah di bumi. Tugas kita memang untuk menyembah-Nya. Seperti dalam surat Adz-Dzariyaat ayat 56 "Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku". Namun ternyata bukan hanya hubungan dengan Allah saja yang perlu kita perbaiki. Ada hubungan dengan sesama manusia yang perlu kita perbaiki. Maksudnya bagaimana? Begini, intinya kita menjadi orang yang solih hanya di mata Allah, seperti rajin menjalankan kewajiban-kewajibannya dan tunduk dalam sujud namun tidak peduli dengan lingkungan sekitar kita. Bagaimana ingin membuat Islam jaya bila tak ada kontribusi untuk mendakwahkannya di masyarakat. Dengan melihat kesalehan kita saja tidak cukup tanpa pemahaman dari kita. Itulah mengapa kita diciptakan dan dijadikan khalifah dibumi ini. Lewat jalan dakwah seperti yang dicontohkan Rasulullah , juga dakwah yang dicontohkan oleh para walisongo misalnya. Dimana mereka berdakwah menggunakan cara yang damai dan berusaha menggunakan pendekatan kultur budaya agar mudah diterima oleh berbagai kalangan. Tanpa ada unsur memaksa hingga menakuti sesama. Subhanallah, indah ya? Lantas mengapa dakwah itu perlu? Mengingat isi kandungan dari surat Al-Asr. Orang-orang yang tidak rugi adalah mereka yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran. Memang, Allah telah memerintahkan kita untuk berdakwah. Lalu dakwah bagaimanakah yang sebaiknya kita lakukan? Apakah dakwah dengan kekerasan seperti yang dilakukan para teroris itu benar? Bukan, sungguh bukan seperti itu. Islam adalah agama yang damai. Rasulullah pun tidak menyuruh kita melakukan dakwah dengan kekerasan. Apabila kita melakukannya, maka semua umat Islam akan di cap kolot dan keras. Bukannya bersimpati dan tertarik tapi malah takut untuk mengenal agama Islam.
Kita sebagai generasi penerus, marilah ubah pandangan dunia tentang kita. Bahwa Islam adalah agama yang damai dan benar. Pahamilah makna dari “Islam Ramah bukan Islam Marah” seperti yang pernah disampaikan oleh sosok Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid atau Gusdur. Tinggalkanlah cara-cara tak bermutu seperti terorisme dan sejenisnya. Itu hanya memperparah keadaan. Lakukanlah dengan cara yang elegan, natural, lembut, dan santun. Itulah mengapa kita sebagai umat Islam tidak cukup belajar agama saja. Untuk mendukung aksi dakwah kita, marilah kita kuasai ilmu-ilmu lainnya, seperti iptek, ekonomi, sosial, sains, bahasa, politik hingga budaya. Mengapa ilmu itu penting? Karena dakwah tanpa ilmu itu kosong. Dakwah hanya sekedar tahu itu nol. Karena ilmu itu bagai senjata bagi manusia. Melawan kesesatan dan kebodohan di muka bumi ini. Dengan ilmu, dunia akan terbuka dengan dakwah kita, dengan ilmu juga dunia akan percaya dengan apa yang kita sampaikan. Intinya, penulis mengajak, mari kita semua termasuk saya sendiri agar menghindari belajar agama secara tekstuil saja wkwkwk. Jangan hanya menjadi penikmat kulit ayam yang kelihatannya memang enak namun.... eh lupa penulis kan bukan dokter. Ya tanyakan saja pada dokter supaya lebih valid ya gaes..... I love Islam Nusantara. Salam aswaja!
Rabu, 12 September 2018
Keenakan Makan Kulit Ayam : Hati-Hati Nanti Gagal Paham Kaya Teroris Gaes!
Anisa V. Ala’yun-
Umat Islam merupakan tonggak pejuang agama Islam rahmatan lil 'alamin. Pengikut dari Nabi Muhammad SAW, manusia paling mulia yang pernah berpijak di muka bumi ini. Islam mengajarkan umatnya untuk menyemba
h hanya kepada Allah SWT dan tiada yang berhak disembah selain-Nya. Seperti isi kandungan dari surat Al-Ikhlas yang gamblang menerangkan keesaan Allah.
Bumi yang telah menua pun menjadi saksi perkembangan Islam dari zaman ke zaman. Begitu berat tugas Rasulullah di tengah-tengah kejahiliyahan penduduk Mekkah kala itu. Namun, Islam adalah agama yang dirahmati Allah. Rasulullah pun melaksanakan perintah-Nya untuk memberikan pencerahan. Masa ke masa, penduduk Mekkah pun dapat menerima ajaran Islam bahkan hingga ke penjuru dunia, termasuk Indonesia. Islam memang mengajarkan kebaikan untuk urusan duniawi dan akhirat.
Tapi ironi, akhir-akhir ini eksistensi Islam tercoreng dengan maraknya terorisme yang terjadi di beberapa negara. Entah apa sebab dari semua ini, namun selalu saja pelakunya adalah mereka yang mengaku ber-Islam namun cara yang digunakan sungguh memprihatinkan. Bahkan ironinya hingga timbul fobia Islam pada sebagian penduduk di bumi ini. Hmm kenapa ya gaes?
Mari kita cermati, mulai dari terorisme yang notabene mengaku ber-Islam. Banyak dari mereka memilih jalan tersebut karena dianggap sebagai jihad fisabilillah atau jihad di jalan Allah. Menggunakan kekerasan terhadap orang-orang yang dianggap kafir, bahkan tak segan-segan melakukan aksi bunuh diri. Walaupun ada alasan lain, seperti faktor ekonomi dan sosial yang memaksa mereka bergabung dalam kelompok-kelompok tersebut.
Dalam buku karangan Ahmad Norma Permata yang berjudul Agama dan Teroris, “Teroris adalah penggunaan kekerasan secara sistematis oleh para pelaku yang memiliki sebuah keterkaitan identitas subkultural, baik subjektif maupun objektif”. Jadi mereka mencoba untuk memecahkan perselisihan antara diri mereka sendiri dan kultur yang lebih besar atau antar kultur mereka dan berabagai subkultur yang lain. Mereka berusaha untuk mengintimidasi dan menakut-nakuti dengan cara yang keras dan tak manusiawi. Hal inilah yang membuat dunia membenci kita sebagai umat Islam. Cara yang tak dapat diterima oleh dunia, hingga timbullah fobia terhadap Islam.
Dalam buku ”Etika dan Estetika Dakwah” karangan Dr. Hajir Tajiri, M.Ag. memberikan pemikiran di antaranya tentang etika dan estetika dakwah, bagaimana seharusnya dai sebagai ujung tombak keberhasilan dakwah melaksanakan tugas dakwahnya sehingga masyarakat dengan tulus ikhlas mau dan mampu menerima dakwah serta bagaimana dai menentukan pilihan metode dalam berdakwah sebab dalam etika bukan hanya cara, tetapi pertimbangan apa yang mendasari penggunaan cara itu sehingga pemilihan suatu metode dirasakan sebagai suatu pilihan yang penting untuk dikonsepkan. Sebagai seorang muslim, marilah kita merenungi hal-hal seperti ini. Adakah yang salah dari kita? Padahal kita tahu Islam adalah agama damai dan benar. Namun, bagaimana caranya agar dunia percaya akan hal itu? Sementara terorisme semakin merajalela di mana-mana. Terlepas dari bahasan mengenai terorisme, marilah kita membahas tentang kiat-kiat apa saja yang harusnya muslim lakukan untuk membuat Islam berjaya di muka bumi ini. Sebagai seorang muslim, kita harus paham betul dengan ilmu agama yang kita miliki. Jangan hanya mengaku beragama untuk kelengkapan identitas namun tak banyak tahu ajaran-ajarannya. Bagaimana Islam mau dibuat jaya sedangkan agamanya sendiri saja dia tak paham. Jadi yang pertama adalah kita sebagai orang muslim harus semangat belajar ilmu agama. Namun ingat, belajar agama jangan pakai cara ngawur-ngawuran. Belajarlah pada orang yang tapat,carilah yang memiliki sanad keilmuan yang jelas dan terpercaya alias yang sesuai dengan ahlussunnah waljama’ah. Semua itu dilakukan agar tak terjerumus dengan kata “hijrah” namun imbasnya malah membuat isi hati semakin parah, misalnya saja mudah megkafirkan orang lain, mudah menakar keimanan seseorang hanya dalam satu sisi,dan lain sebagainya. Ya, penulis rasa pembaca sudah familiar dengan fenomena seperti itu.
Perbaikilah hubungan dengan Allah SWT, yang telah menciptakan kita sebagai khalifah di bumi. Tugas kita memang untuk menyembah-Nya. Seperti dalam surat Adz-Dzariyaat ayat 56 "Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku". Namun ternyata bukan hanya hubungan dengan Allah saja yang perlu kita perbaiki. Ada hubungan dengan sesama manusia yang perlu kita perbaiki. Maksudnya bagaimana? Begini, intinya kita menjadi orang yang solih hanya di mata Allah, seperti rajin menjalankan kewajiban-kewajibannya dan tunduk dalam sujud namun tidak peduli dengan lingkungan sekitar kita. Bagaimana ingin membuat Islam jaya bila tak ada kontribusi untuk mendakwahkannya di masyarakat. Dengan melihat kesalehan kita saja tidak cukup tanpa pemahaman dari kita. Itulah mengapa kita diciptakan dan dijadikan khalifah dibumi ini. Lewat jalan dakwah seperti yang dicontohkan Rasulullah , juga dakwah yang dicontohkan oleh para walisongo misalnya. Dimana mereka berdakwah menggunakan cara yang damai dan berusaha menggunakan pendekatan kultur budaya agar mudah diterima oleh berbagai kalangan. Tanpa ada unsur memaksa hingga menakuti sesama. Subhanallah, indah ya? Lantas mengapa dakwah itu perlu? Mengingat isi kandungan dari surat Al-Asr. Orang-orang yang tidak rugi adalah mereka yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran. Memang, Allah telah memerintahkan kita untuk berdakwah. Lalu dakwah bagaimanakah yang sebaiknya kita lakukan? Apakah dakwah dengan kekerasan seperti yang dilakukan para teroris itu benar? Bukan, sungguh bukan seperti itu. Islam adalah agama yang damai. Rasulullah pun tidak menyuruh kita melakukan dakwah dengan kekerasan. Apabila kita melakukannya, maka semua umat Islam akan di cap kolot dan keras. Bukannya bersimpati dan tertarik tapi malah takut untuk mengenal agama Islam.
Kita sebagai generasi penerus, marilah ubah pandangan dunia tentang kita. Bahwa Islam adalah agama yang damai dan benar. Pahamilah makna dari “Islam Ramah bukan Islam Marah” seperti yang pernah disampaikan oleh sosok Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid atau Gusdur. Tinggalkanlah cara-cara tak bermutu seperti terorisme dan sejenisnya. Itu hanya memperparah keadaan. Lakukanlah dengan cara yang elegan, natural, lembut, dan santun. Itulah mengapa kita sebagai umat Islam tidak cukup belajar agama saja. Untuk mendukung aksi dakwah kita, marilah kita kuasai ilmu-ilmu lainnya, seperti iptek, ekonomi, sosial, sains, bahasa, politik hingga budaya. Mengapa ilmu itu penting? Karena dakwah tanpa ilmu itu kosong. Dakwah hanya sekedar tahu itu nol. Karena ilmu itu bagai senjata bagi manusia. Melawan kesesatan dan kebodohan di muka bumi ini. Dengan ilmu, dunia akan terbuka dengan dakwah kita, dengan ilmu juga dunia akan percaya dengan apa yang kita sampaikan. Intinya, penulis mengajak, mari kita semua termasuk saya sendiri agar menghindari belajar agama secara tekstuil saja wkwkwk. Jangan hanya menjadi penikmat kulit ayam yang kelihatannya memang enak namun.... eh lupa penulis kan bukan dokter. Ya tanyakan saja pada dokter supaya lebih valid ya gaes..... I love Islam Nusantara. Salam aswaja!
h hanya kepada Allah SWT dan tiada yang berhak disembah selain-Nya. Seperti isi kandungan dari surat Al-Ikhlas yang gamblang menerangkan keesaan Allah.
Bumi yang telah menua pun menjadi saksi perkembangan Islam dari zaman ke zaman. Begitu berat tugas Rasulullah di tengah-tengah kejahiliyahan penduduk Mekkah kala itu. Namun, Islam adalah agama yang dirahmati Allah. Rasulullah pun melaksanakan perintah-Nya untuk memberikan pencerahan. Masa ke masa, penduduk Mekkah pun dapat menerima ajaran Islam bahkan hingga ke penjuru dunia, termasuk Indonesia. Islam memang mengajarkan kebaikan untuk urusan duniawi dan akhirat.
Tapi ironi, akhir-akhir ini eksistensi Islam tercoreng dengan maraknya terorisme yang terjadi di beberapa negara. Entah apa sebab dari semua ini, namun selalu saja pelakunya adalah mereka yang mengaku ber-Islam namun cara yang digunakan sungguh memprihatinkan. Bahkan ironinya hingga timbul fobia Islam pada sebagian penduduk di bumi ini. Hmm kenapa ya gaes?
Mari kita cermati, mulai dari terorisme yang notabene mengaku ber-Islam. Banyak dari mereka memilih jalan tersebut karena dianggap sebagai jihad fisabilillah atau jihad di jalan Allah. Menggunakan kekerasan terhadap orang-orang yang dianggap kafir, bahkan tak segan-segan melakukan aksi bunuh diri. Walaupun ada alasan lain, seperti faktor ekonomi dan sosial yang memaksa mereka bergabung dalam kelompok-kelompok tersebut.
Dalam buku karangan Ahmad Norma Permata yang berjudul Agama dan Teroris, “Teroris adalah penggunaan kekerasan secara sistematis oleh para pelaku yang memiliki sebuah keterkaitan identitas subkultural, baik subjektif maupun objektif”. Jadi mereka mencoba untuk memecahkan perselisihan antara diri mereka sendiri dan kultur yang lebih besar atau antar kultur mereka dan berabagai subkultur yang lain. Mereka berusaha untuk mengintimidasi dan menakut-nakuti dengan cara yang keras dan tak manusiawi. Hal inilah yang membuat dunia membenci kita sebagai umat Islam. Cara yang tak dapat diterima oleh dunia, hingga timbullah fobia terhadap Islam.
Dalam buku ”Etika dan Estetika Dakwah” karangan Dr. Hajir Tajiri, M.Ag. memberikan pemikiran di antaranya tentang etika dan estetika dakwah, bagaimana seharusnya dai sebagai ujung tombak keberhasilan dakwah melaksanakan tugas dakwahnya sehingga masyarakat dengan tulus ikhlas mau dan mampu menerima dakwah serta bagaimana dai menentukan pilihan metode dalam berdakwah sebab dalam etika bukan hanya cara, tetapi pertimbangan apa yang mendasari penggunaan cara itu sehingga pemilihan suatu metode dirasakan sebagai suatu pilihan yang penting untuk dikonsepkan. Sebagai seorang muslim, marilah kita merenungi hal-hal seperti ini. Adakah yang salah dari kita? Padahal kita tahu Islam adalah agama damai dan benar. Namun, bagaimana caranya agar dunia percaya akan hal itu? Sementara terorisme semakin merajalela di mana-mana. Terlepas dari bahasan mengenai terorisme, marilah kita membahas tentang kiat-kiat apa saja yang harusnya muslim lakukan untuk membuat Islam berjaya di muka bumi ini. Sebagai seorang muslim, kita harus paham betul dengan ilmu agama yang kita miliki. Jangan hanya mengaku beragama untuk kelengkapan identitas namun tak banyak tahu ajaran-ajarannya. Bagaimana Islam mau dibuat jaya sedangkan agamanya sendiri saja dia tak paham. Jadi yang pertama adalah kita sebagai orang muslim harus semangat belajar ilmu agama. Namun ingat, belajar agama jangan pakai cara ngawur-ngawuran. Belajarlah pada orang yang tapat,carilah yang memiliki sanad keilmuan yang jelas dan terpercaya alias yang sesuai dengan ahlussunnah waljama’ah. Semua itu dilakukan agar tak terjerumus dengan kata “hijrah” namun imbasnya malah membuat isi hati semakin parah, misalnya saja mudah megkafirkan orang lain, mudah menakar keimanan seseorang hanya dalam satu sisi,dan lain sebagainya. Ya, penulis rasa pembaca sudah familiar dengan fenomena seperti itu.
Perbaikilah hubungan dengan Allah SWT, yang telah menciptakan kita sebagai khalifah di bumi. Tugas kita memang untuk menyembah-Nya. Seperti dalam surat Adz-Dzariyaat ayat 56 "Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku". Namun ternyata bukan hanya hubungan dengan Allah saja yang perlu kita perbaiki. Ada hubungan dengan sesama manusia yang perlu kita perbaiki. Maksudnya bagaimana? Begini, intinya kita menjadi orang yang solih hanya di mata Allah, seperti rajin menjalankan kewajiban-kewajibannya dan tunduk dalam sujud namun tidak peduli dengan lingkungan sekitar kita. Bagaimana ingin membuat Islam jaya bila tak ada kontribusi untuk mendakwahkannya di masyarakat. Dengan melihat kesalehan kita saja tidak cukup tanpa pemahaman dari kita. Itulah mengapa kita diciptakan dan dijadikan khalifah dibumi ini. Lewat jalan dakwah seperti yang dicontohkan Rasulullah , juga dakwah yang dicontohkan oleh para walisongo misalnya. Dimana mereka berdakwah menggunakan cara yang damai dan berusaha menggunakan pendekatan kultur budaya agar mudah diterima oleh berbagai kalangan. Tanpa ada unsur memaksa hingga menakuti sesama. Subhanallah, indah ya? Lantas mengapa dakwah itu perlu? Mengingat isi kandungan dari surat Al-Asr. Orang-orang yang tidak rugi adalah mereka yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran. Memang, Allah telah memerintahkan kita untuk berdakwah. Lalu dakwah bagaimanakah yang sebaiknya kita lakukan? Apakah dakwah dengan kekerasan seperti yang dilakukan para teroris itu benar? Bukan, sungguh bukan seperti itu. Islam adalah agama yang damai. Rasulullah pun tidak menyuruh kita melakukan dakwah dengan kekerasan. Apabila kita melakukannya, maka semua umat Islam akan di cap kolot dan keras. Bukannya bersimpati dan tertarik tapi malah takut untuk mengenal agama Islam.
Kita sebagai generasi penerus, marilah ubah pandangan dunia tentang kita. Bahwa Islam adalah agama yang damai dan benar. Pahamilah makna dari “Islam Ramah bukan Islam Marah” seperti yang pernah disampaikan oleh sosok Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid atau Gusdur. Tinggalkanlah cara-cara tak bermutu seperti terorisme dan sejenisnya. Itu hanya memperparah keadaan. Lakukanlah dengan cara yang elegan, natural, lembut, dan santun. Itulah mengapa kita sebagai umat Islam tidak cukup belajar agama saja. Untuk mendukung aksi dakwah kita, marilah kita kuasai ilmu-ilmu lainnya, seperti iptek, ekonomi, sosial, sains, bahasa, politik hingga budaya. Mengapa ilmu itu penting? Karena dakwah tanpa ilmu itu kosong. Dakwah hanya sekedar tahu itu nol. Karena ilmu itu bagai senjata bagi manusia. Melawan kesesatan dan kebodohan di muka bumi ini. Dengan ilmu, dunia akan terbuka dengan dakwah kita, dengan ilmu juga dunia akan percaya dengan apa yang kita sampaikan. Intinya, penulis mengajak, mari kita semua termasuk saya sendiri agar menghindari belajar agama secara tekstuil saja wkwkwk. Jangan hanya menjadi penikmat kulit ayam yang kelihatannya memang enak namun.... eh lupa penulis kan bukan dokter. Ya tanyakan saja pada dokter supaya lebih valid ya gaes..... I love Islam Nusantara. Salam aswaja!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Keenakan Makan Kulit Ayam : Hati-Hati Nanti Gagal Paham Kaya Teroris Gaes!
Anisa V. Ala’yun- Umat Islam merupakan tonggak pejuang agama Islam rahmatan lil 'alamin. Pengikut dari Nabi Muhammad SAW, manusia p...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar